SEPUCUK SURAT DARI AYAH DAN IBU

surat

Ada sebuah artikel yang menarik yang berkaitan dengan tema Dhamma Talk ini dan baru-baru ini juga marak beredar kembali di Facebook, judul artikel tersebut saya ambil menjadi judul tulisan ini, yaitu Sepucuk Surat dari Ayah dan Ibu. Isi dari surat itu adalah sebagai berikut :

 “Anak ku, Ketika aku semakin tua,
aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untuk ku.
Suatu ketika aku memecahkan piring,
atau menumpahkan sup di atas meja,
karena penglihatanku berkurang.
Aku harap kamu tidak memarahiku.
Orang tua itu sensitif.
selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.
Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan,
aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”.
Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya.
Maaf, Anakku.
Aku semakin tua.
Ketika lututku mulai lemah,
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun.
Seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil,
untuk belajar berjalan.
Aku mohon,
jangan bosan denganku.
Ketika aku terus mengulangi apa yang kukatakan,
seperti kaset rusak,
Aku harap kamu  terus mendengarkan aku.
Tolong jangan mengejekku atau bosan mendengarkanku.
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon ?
Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Maafkan juga bau ku,
Tercium seperti orang yang sudah tua.
Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi.
Tubuhku lemah.
Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin.
Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu.

Apakah kamu masih ingat ketika kamu masih kecil ?
Aku selalu mengejar-ngejar kamu karena kamu tidak mau mandi.
Aku harap kamu bisa bersabar denganku, ketika aku selalu rewel..
Ini semua bagian dari menjadi tua,
.. kamu akan mengerti ketika kamu tua.
Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara, bahkan beberapa menit.

Aku selalu sendiri sepanjang waktu.
Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan,
Bahkan jika kamu tidak tertarik  pada ceritaku,
Aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu.
Apakah kamu ingat, ketika kamu masih kecil ?
Aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu.

Ketika saatnya tiba…
dan aku hanya bisa terbaring, sakit dan sakit,
aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku.
MAAF.. kalau saja aku sengaja mengompol atau membuat berantakan.
Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku. selama beberapa saat terakhir dalam hidupku.
Aku mungkin, tidak akan bertahan lebih lama,
Ketika waktu kematianku datang,
Aku harap kamu memegang tanganku  dan memberikanku  kekuatan untuk menghadapi kematian.
Dan jangan khawatir.
Ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta..
Aku akan berbisik padaNya,
Untuk selalu memberikan BERKAH padamu.
Karena kamu mencintai Ibu dan Ayah mu.
Terimah kasih atas segala perhatianmu, nak.
Kami Mencintaimu,

 

AYAH dan IBU

Itulah sepucuk surat yang ditulis oleh orang tua kepada anaknya yang membuat orang yang membacanya atau menonton videonya menangis karena terharu dan terbawa perasaannya dengan isi surat tersebut.

Pertanyaannya sekarang, sebagai umat Buddha sekaligus anak yang baik yang memiliki kewajiban seorang anak kepada orang tua seperti yang Sang Buddha sampaikan dalam Sigalovada Sutta, apakah kita sudah memperlakukan orang tua kita dengan penuh rasa hormat ? Apakah kita sudah memperlakukan mereka seperti Dewa Brahma ? Ataukah malah sebaliknya, atas nama kasih sayang kepada cucunya, kita memperlakukan orang tua kita sebagai pengasuh anak kita ? Atau malah lebih kejam lagi kita ‘mencampakkan’ mereka di hari tuanya yang justru membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kita sebagai anak-anak yang dikandung, dilahirkan dan dibesarkan dengan darah (baca : air susu ibu) dan keringat mereka.

Dalam Ittivutaka, Kudhaka Nikaya, Sang Buddha mengatakan sebagai berikut :

 1.      Penyesalan

Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha …

“Ada dua hal, wahai para bhikkhu, yang menyebabkan penyesalan.”

“Apakah dua hal itu?”

“Di sini seseorang belum melakukan apa yang baik, belum melakukan apa yang bermanfaat, belum melakukan apa yang menguntungkan,  namun telah melakukan tindakan-tindakan yang jahat, sembrono, dan salah. Dia akan menyesal ketika berpikir, ‘Aku belum melakukan yang baik’, dan akan menyesal ketika berpikir, ‘Aku telah melakukan yang jahat’.”

“Wahai para bhikkhu, inilah dua hal yang menyebabkan penyesalan.”

Telah melakukan tindakan salah
Lewat tubuh, tindakan salah lewat ucapan,
Tindakan salah lewat pikiran dan apa pun lainnya
Yang dianggap sebagai kesalahan,

Belum melakukan tindahan yang baik
Dan telah melakukan banyak hal yang buruk –
Ketika tubuhnya hancur
Orang bodoh itu akan terlahir kembali di alam neraka.

2.      Tanpa Penyesalan

Demikian telah dikatakan oleh Sang Buddha …

“Wahai para bhikkhu, ada dua hal yang menyebabkan tidak adanya penyesalan.”

“Apakah dua hal itu?”

“Di sini seseorang telah melakukan apa yang baik, melakukan apa yang bermanfaat, melakukan apa yang menguntungkan, serta tidak melakukan tindakan yang jahat, sembrono dan salah. Dia tidak akan menyesal ketika berpikir, ‘Aku telah melakukan yang baik’, dan tidak akan menyesal ketika berpikir, ‘Aku tidak melakukan yang jahat’.”

“Wahai para bhikkhu, inilah dua hal yang menyebabkan tidak adanya penyesalan.”

Setelah meninggalkan tindakan salah
Lewat tubuh, tindakan salah lewat ucapan,
Tindakan salah lewat pikiran dan apa pun lainnya
Yang dianggap sebagai kesalahan,

Tidak melakuhan tindakan yang buruk
Dan telah melakukan banyak hal yang baik –
Ketika tubuhnya hancur
Orang bijaksana itu akan terlahir kembali di alam surga.

Demikianlah apa yang disampaikan Guru Agung kita Sang Buddha, semoga kita menjadi anak yang baik yang tidak melakukan tindakan yang buruk dan selalu memperlakukan orang tua sebagai Dewa Brahma yang patut dihormati dan merupakan harta yang termulia, sehingga tidak ada penyesalan di sini maupun di kehidupan kita berikutnya.

Semoga orang tua, leluhur dan sanak saudara yang telah meninggal ikut berbahagia.

Semoga semua mahluk hidup berbahagia.

 

Tangerang, 29 Mei 2014

PMy. Sima Budy (Dipankara)

 

Sumber : http://www.anehdidunia.com/2013/05/sepucuk-surat-dari-ayah-dan-ibu.html

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/duka-2/

Share with your social media account !!!