KESEPAKATAN SANGHA THERAVADA INDONESIA Nomor: 016/STI/VI/2015

1. SALAM BUDDHIS DAN SALAM UMUM

Ditujukan kepada sesama umat Buddha, kata salam Buddhis yang digunakan adalah: “Buddhānubhāvena sotthi hotu“, berarti dengan kekuatan nilai-nilai luhur Buddha, semoga kesejahteraan ada pada Anda/-sekalian, atau dapat disingkat menjadi “Sotthi hotu“, berarti semoga kesejahteraan ada pada Anda/-sekalian.

Ditujukan kepada masyarakat umum, kata salam umum yang digunakan adalah: “Sotthi hotu“, berarti semoga kesejahteraan ada pada Anda/-sekalian.

Ditujukan kepada seseorang/orang-orang yang dituakan atau dihormat, kata salam Buddhis dan salam umum menggunakan “Namas te“, berarti penghormatan (saya/kami) kepada Anda.

Keterangan:

Secara harfiah, kata “sotthi” berarti keadaan/keberadaan baik, dari partikel kata “su” berarti baik, dan “danatthi” berarti keberadaan.

2. ISTILAH “NAMO BUDDHAYA”

Istilah “Namo buddhāya” setara dengan frasa “Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa”, “Namatthu buddhassa”, “Namo ranatattayāya”, dan beberapa lainnya.

Istilah-istilah tersebut umumnya digunakan pada waktu seseorang sedang menyampaikan uraian berciri keagamaan, berpidato, atau menyatakan ungkapan hati dengan penuh kesungguhan hati, misalnya: bertekad dan bersumpah.

3. ISTILAH “SAMVEGACITTA”

Untuk kepentingan mengungkapkan rasa empati kepada kerabat dan kenalan sesama umat Buddha yang sedang berada dalam suasana duka, kalimat yang diucapkan adalah:

“Turut ber-samvegacitta atas kewafatan mendiang Ibu/Bapak/Sudara/Saudari ……. , Ibunda/Ayahanda/Putri/Putra/Kakak/Adik ……………………….. , Sugatim vā saggam lokam uttarim vā upapajjatu.”

Keterangan:

Kalimat “Sugatim vā saggam lokam uttarim vā upapajjatu”, berarti semoga mendiang terlahir di alam surga menyenangkan atau lebih dari itu.

Jika yang meninggal lebih dari 1 orang, kata ‘upapajjatu’ diubah menjadi ‘upapajjantu’.

Samvegacitta merupakan pikiran disertai hal-hal batiniah yang kuat muncul sebagai tanggapan atas kejadian menggugah hati, mengarah ke perenungan pada pengetahuan kebenaran alamiah, misalnya pada saat kejadian orang yang dicinta/dihormat meninggal dunia.

Ada sebuah kronologis, pada waktu Guru Agung Buddha Parinibbāna, para awam menangis berderai air mata, sedangkan para ariyasāvaka memasuki pemikiran yang diwarnai oleh samvega (hal-hal batiniah yang kuat).

Hal-hal batiniah (cetasika) di atas mengacu ke nilai-nilai positif, seperti: paññā (kebijaksanaan), mettā (cinta kasih), karuņā (welas asih), upekkhā (keseimbangan batin), dan lain-lain, khususnya adalah paññā dan upekkhā.

4. ISTILAH “ANUMODANA” DAN “TERIMAKASIH”

Penggunaan kata “Anumodanā” berbeda sedikit dengan kata “Terimakasih”

Kata ‘anumodanā’ berarti sikap turut bersuka cita atas perbuatan baik yang telah dilakukan seseorang. Ini berbeda sedikit dengan kata ‘terimakasih’ yang berarti sikap menghargai/senang atas barang atau jasa yang orang lain berikan kepada dirinya. Perbedaannya terletak pada penekanan di sisi perbuatan untuk makna kata anumodanā, dan penekanan di sisi hal-hal terkait dengan perbuatan itu yaitu berupa barang atau jasa yang diberikan untuk makna kata terimakasih.

Perbedaan dalam bentuk praktiknya adalah, jika ada seseorang yang melakukan kebaikan berupa memberi namun barang yang diberikan tersebut bukan ditujukan untuk diri penerima secara pribadi, atau melakukan kebaikan dalam bentuk lain, misalnya bertekad melaksanakan uposathasila atau berlatih meditasi, sikap yang kita tunjukkan kepadanya adalah turut bersuka cita atas perbuatan yang dilakukan, yaitu kita mengucapkan kata ‘anumodanā’. Sedangkan, jika ada seseorang yang melakukan kebaikan, khususnya berupa memberi, dan pemberian itu ditujukan kepada diri kita secara pribadi, sikap yang kita tunjukkan kepadanya adalah menghargai/senang atas barang atau jasa yang diberikan itu, yaitu kita mengucapkan kata ‘terimakasih’.

Contoh kasus:

a. Kumara mendengarkan cerita Taruna, temannya, bahwa Taruna baru saja mendanakan tanahnya kepada sebuah lembaga yatim piatu.

b. Kumara mendengarkan cerita Bhante Tissa, gurunya, bahwa beliau baru saja memberikan uraian Dhamma kepada anak-anak di sebuah lembaga yatim piatu.

c. Kumara yang menjabat sebagai bendahara sebuah vihara atau perkumpulan Buddhis menerima sumbangan dana dari Taruna untuk biaya operasional vihara atau perkumpulan itu.

Untuk kasus a, b, dan c di atas, kata yang diucapkan adalah ‘anumodanā’.

d. Taruna menerima pemberian buku Dhamma dari Kumara.

e. Taruna, sebagai pimpinan pujabakti, bersama dengan teman-temannya menerima wejangan Dhamma dari Bhante Tissa

f. Taruna memberi obat kepada Ibunya Kumara dengan cara menyerahkan obat itu kepada Kumara untuk diberikan kepada Ibunya. Kumara menerima obat itu.

g. Bhante Tissa menerima pemberian jubah dari Bhante Puņņa untuk dirinya. Bhante Puņņa juga memberi jubah bagi para sāmaņera murid Bhante Tissa yang diberikan melalui Bhante Tissa.

Untuk kasus d hingga g di atas, kata yang diucapkan adalah ‘terimakasih’. Untuk kasus f, Kumara mengucapkan terima kasih untuk mewakili Ibunya. Demikian pula kasus g.

h. Bhante Tissa menerima dana tiket kereta api untuk perjalanan beliau kembali ke vihara dari Taruna.

Untuk kasus h di atas, kata yang diucapkan adalah ‘anumodanā’ karena Bhante Tissa, termasuk juga pada umumnya para bhikkhu, dalam hubungannya dengan umat lebih menitikberatkan pada sisi perbuatannya alih-alih pada barang atau jasa yang umat berikan. Walau demikian, dalam situasi yang persis sama seperti itu, para bhikkhu bisa juga mengucapkan ‘terima kasih’.

Keterangan:

Istilah ‘anumodāmi’ atau ‘sādhu, anumodāmi’ dapat pula digunakan sebagai varian istilah anumodanā.

Kata ‘anumodanā’ adalah kata benda, berarti tindak turut bersuka cita. Sedangkan, kata anumodāmi’ adalah kata kerja, berarti ‘saya turut bersuka cita’. Kata ‘sādhu’ ditambahkan sebagai pemanis dalam berbahasa, berarti ‘bagus’, atau bisa juga ‘semoga kebajikan yang telah Anda lakukan menghasilkan buah sesuai harapan’. Jika diucapkan mewakili diri sendiri dan orang lain, yaitu dalam bentuk jamak, kata di atas diubah menjadi ‘anumodāma’, atau ‘sādhu, anumodāma’.

5. UNGKAPAN BAHAGIA ATAS KEBERHASILAN

Untuk kepentingan mengungkapkan rasa bahagia atas keberhasilan yang telah dicapai, digunakan kata “abhițhuti ratanattayagunesu ca me katakusalesu“, berarti gembira ria saya atas nilai-nilai luhur Tiratana dan kebajikan-kebajikan yang telah saya lakukan.

Penggunaan secara keseharian memungkinkan untuk disingkat menjadi “abhiñhuti”.

 

Balikpapan, 19 Juni 2015

SANGHA THERAVADA INDONESIA

ttd.

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera

Ketua Umum / Sanghanayaka

Share with your social media account !!!