KAMMA dan PATISANDHI / PUNBBHAVA

karma

Dalam kegiatan sehari-hari kita sering mendengar kata “karma” penggunaan kata karma ini pada umumnya ditujukan untuk menggambarkan  hal-hal yang tidak baik,karma selalu dihubungkan dengan karma buruk.padahal sebetulnya karma bukan hanya karma buruk tetapi juga karma baik selain sebagai karma buruk,konsep karma juga sering diindentikkan sebagai satu-satunya penyebab kejadian.kita menganggap setiap keadaan buruk selalu disebabkan oleh karma, semuanya tergantung pada karma,konsep yang demikian ini dapat berakibat menurunkan semangat hidup kita. padahal karma bukan satu-satunya penyebab kejadian,melainkan hanya salah satunya,masih terdapat banyak faktor yang ikut menentukan dan menyebabkan

karma berbuah Konsep yang menganggap bahwa karma selalu karma buruk dan sebagai satu-satunya penyebab kejadian ini dapat dikatakan sebagai suatu pandangan yang salah dan merupakan kelemahan terhadap penjelasan hukum karma.Apakah sesungguh nya karma itu? karma adalah niat melakukan perbuatan,niat itulah yang disebut dengan karma,dengan pikiran disebut MANO kamma yang dilakukan dengan ucapan disebut VACI kamma,yang dilakukan dengan badan disebut KAYA kamma dengan demikian karma bisa berupa karma baik dan karma buruk.kemudian timbul satu pertanyaan ,Apakah yang disebut HUKUM KARMA?

Hukum karma sebetulnya adalah hukum sebab dan akibat didalam samyutta nikaya dinyatakan : sesuai dengan benih yang ditabur,demikian pulalah buah yang akan dituai,mereka yang menanam kebajikan akan tumbuh kebahagiaan,kalau kita melihat dengan kacamata duniawi,pernyataan Dhammapada tersebut tampak bertolak balakang dengan fenomena yang ada,kita sering menemukan orang melakukan kebajikan tetapi masih mengalami penderitaan,dan sebaliknya.mengapa demikian? apakah hukum karmanya keliru?sebetulnya tidak keliru!kalau hukum karma diumpamakan sebagai sebuah sawah yang mempunyai tanaman padi dan jagung .dimana tanaman padi dan jagung tersebut mempunyai usia panen yang berbeda,maka tanaman jagung tentu akan panen terlebih dahulu daripada tanaman padi.Demikian pula perbuatan baik dan buruk,kalau kita sudah berbuat baik tetapi masih menderita,ini disebabkan

karena perbuatan baik kita belum saatnya dipanen.Dalam hal ini kita memetik buah dari perbuatan buruk terlebih dahulu.jadi semua itu ada waktunya,walaupun ada kalanya masih bisa dipercepat sampai batas-batas tertentu..Selanjutnya bagai manakah karma kalau dilihat menurut waktunya, karma dapat kita bedakan menjadi 4 kelompok, Yaitu :

DITTHADHAMMA VIDANIYA KAMMA yang masak dalam jangka waktu satu kehidupan Karma yang kita tanam akan berbuah cepat,misalnya kita menanam tauge dalam 2 hari sudah dapat kita nikmati, menanam padi, jagung, kacang kedelai, ketimun, dll, dalam waktu 1 tahun kita sudah dapat menikmati hasilnya. demikian pula dengan kamma yang berbuah dalam 1 kehidupan pahit atau manis dapat kitanikmati dalam waktu yang cepat namun berbuah untuk waktu yang pendek.

UPAJJA VEDANIYA KAMMA Yang masak dalam kehidupan berikutnya,kamma yang kita tanam akan berbuah pada kehidupan beikutnya, misalnya menanam pohon jambu, pohon mangga, durian, dll. kita tanam biji buah tersebut dan buahnya baru dapat kita nikmati pada beberapa tahun kemudian, demikian dengan perbuatan yang kita lakukan baru menghasilkan buah diwaktu mendatang.

APARAPARAVEDANIYA KAMMA yang masak dalam kehidupan berikutnya berturut-turut, misalnya kita menanam umbi jalar kita biarkan selama bertahun-tahun pohonnya mati-tumbuh kembali lebih banyak sebab umbi tersebut bila tidak diangkat dari tanahmaka akan terus tumbuh, demikian pula perbuatan yang dilakukan dikehidupan sekarang terus bertumpuk maka pada saatnya berbuah akan silih berganti yang berbuah cepat berganti akibat yang lampau dan akibat yang berbuah dalam kurun waktu yang panjang.

AHOSI KAMMA yang tidak menimbulkan akibat sama sekali, kita menumpuk barang yang jelek dalam satu gudang dengan yang baik, yang baik ditambah terus sehingga gudang tersebut penuh oleh barang yang baik, seseorang yang berbuat kejahatan tapi setelah mengerti akhirnya berhenti dan selanjutnya meninggalkan kejahatan dan selalu berbuat baik sampai mencapai kesucian, pada akhirnya buah dari kejahatan tidak bisa berproses dan berbuah dalam bentuk sangat kecil.

MENURUT SIFAT BEKERJANYA golongan inipun dibagi dalam 4 (empat) jenis.:

  1. JANAKA KAMMA adalah hukum yang menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatumahluk. karena adanya nafsu keinginan sehingga muncul keserakahan (LOBHA) kebencian (DOSA) dan kebodohan bathin (MOHA)
  2. UPATTHAMBAKA KAMMA adalah hukum kekuatan yang mendorong terpeliharanya satu akibat daripada sebab kamma yang telah timbul. Apabila kamma baik/buruk telah timbul maka kekuatan kamma ini mendorong sehingga kita merasakan manis / pahitnya dan selama kekuatan tersebut belum tuntas maka akibatnya masih tetap kita rasakan.
  3. UPAPILAKA KAMMA adalah satu hukum, kekuatan yang menekan,pula mengolah, menyelaraskan satu akibat daripada satu sebab, Apabila seseorang kikir dalam hidup sebelumnya maka dia akan menjalani kehidupan yang miskin dalam kehidupan sekarang,
  4. UPAGHATAKA KAMMA adalah kamma yang meniadakan kekuatan dan akibat dari satu sebab kamma yang telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya kamma baru. apabila seseorang sedang menikmati kebahagiaan tiba-tiba ada berita duka yang merubah suasana menjadi sedih, demikian pula sebaliknya, pada saat seseorang sedang kesulitan uang tiba-tiba mendapat undian.karena mendapat rejeki tiba-tiba maka orang tersebut memupuk berkembangnya karma baru.

 

MENURUT SIFAT DARI AKIBATNYA golongan ini kembali dapat dibagi dalam empat jenis

GARUKA KAMMA adalah kamma yang digolongkan dalam jenis yang bermutu dan berat, Akibatnya dapat timbul dalam waktu satu kehidupan atau kehidupan berikutnya.tingkatan-tingkatan dalam samadhi yang disebut jana termasuk jenis ini dan akibatnya pun sangat bermutu dan lebih cepat timbulnya dari pada tingkatan bathin lainnya,sebaliknya termasuk pula dalam jenis ini, lima perbuatan durhaka yang akibatnya sangat berat,yaitu :

  • Membunuh ibu
  • Membunuh ayah
  • Membunuh seorang arahat
  • Melukai sang Buddha
  • Menyebabkan perpecahan dalam sangha.

kamma berat ini dapat menyebabkan terlahir dialam Neraka Avici.

ASANNA KAMMA Ialah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang sebelum saat ajalnya (kematiannya) dengan lahir dan batin misalnya,:memikirkan,merasakan, mengingat-ingat semua perbuatan baik atau buruk yang telah lampau, atau memikirkan kebaikan atau kejahatan terhadap mahluk lain.Kamma inilah yang akan menentukan keadaan kelahiran seseorang yang akan datang,jika tidak ada Kamma yang lebih berat lagi yang merupakan syarat-syarat yang menentukan.

ACINNA KAMMA atau BAHULA KAMMA Bila seseorang sebelum saat ajalnya tidak berbuat sesuatu dan dengan demikian tidak terdapat Asanna Kamma, maka yang menentukan keadaan kelahiran yang berikutnya ialah Kamma kebiasaan atau Acinna Kamma, ialah perbuatan-perbuatan yang merupakan kebiasaan bagi seseorang karena seringnya dilakukan sehingga seolah-olah merupakan watak baru.

KATTATA KAMMA Sebagai syarat yang merupakan penentuan kelahiran bagi seseorang, bilamana Acinna Kamma tidak terdapat padanya, maka Kattata Kamma inilah yang menentukan yaitu Kamma yang tidak begitu berat dirasakan akibatnya dari perbuatan-perbuatan yang lampau.  .

 

MENURUT TEMPAT DAN KEADAAN DIMANA KAMMA AKAN BERBUAH (BERAKIBAT)

Gokongan inipun dibagi dalam empat jenis :

KAMMA JAHAT (Tidak bermoral) Yang berbuah di alam yang berisi penuh dengan penderitaan dan sangat menyedihkan.perbuatan-perbuatan jahat ini berakar pada : LOBHA, DOSA, MOHA.

  • Dilakukan dengan badan jasmani : Pembunuhan, Pencurian, Perzinahan
  • Dilakukan dengan kata-kata : Berdusta, Berbicara kasar dan menghina,
  • berbicara tentang keburukan orang lain, omong kosong.
  • Dilakukan dengan pikiran :Keserahan,Kemauan jahat,kekeliruan pandangan
  • hidup.

 

Kamma jahat ini terdiri 10 jenis :

Pembunuhan : syarat-syarat yang harus dipenuhi :adanya suatu mahluk, sadar akan adnya mahluk, niat untuk membunuh,langkah-langkah perbuatan,kematian sebagai akibatnya. * Akibat buruk dari pembunuhan adalah sbb: pendek umur, penuh penyakit, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dengan orang yg dicintai senantiasa hidup dalam ketakutan.

Pencurian : syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb : milik orang lain, niat untuk mencuri, langkah-langkah perbuatan, peralihan benda yang dicuri sebagai akibatnya. * Akibat buruk dari pencurian adalah sbb : Miskin, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan-keinginan yang senantiasa tidak tercapai, hidup senantiasa dengan ketergantungan kepada orang lain.

Perzinahan : Syarat-syarat yang harus dipenuhi sbb : Berniat untuk mengalami sensasi obyek sasaran terlarang yang bukan haknya, berusaha, memiliki sasaran tersebut. * Akibat buruk dari perzinahan tersebut adalah sbb : Mempunyai banyak musuh, beristri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai Wanita atau Pria dengan perasaan sex yang tidak normal

Berdusta : Syarat-syarat yang harus dipenuhi sbb : Kedustaan, Niat untuk berdusta, Usaha, Penyampaian kepada orang lain. * Akibat buruknya adalah sbb : Menjadi sasaran dan menderita akibat pembicaraan yang tidak baik,Menjadi sasaran penghinaan,Tidak dipercaya oleh khalayak ramai.

Berbicara kasar dan menghina : Syarat-syarat yang harus dipenuhi sbb : Sasaran atau orang untuk dihina/disakiti. Pikiran yang penuh amarah, Penggunaan kata-kata untuk menyakiti.* Akibat buruknya adalah sbb : Sering didakwa oleh orang lain,sekalipun belum tentu bersalah.Menerima suara-suara yang tidak enak didengar.

Berbicara tentang keburukan orang lain : Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb : Pembedaan terhadap orang, Niat untuk memisahkan mereka, Usaha, Tindakan. * Akibat buruknya adalah : Kehilangan sahabat tanpa sebab yang berarti.

Berbicara tentang hal yang tidak perlu (omong kosong): Syarat-syarat yang harus dipenuhi sbb : Adanya niat untuk omong kosong, Pelaksanaan niat tersebut. * Akibat buruknya adalah : Menderita penyakit karena kerja yang tidak baik dari bagian-bagian badan jasmani, Tidak dipercaya oleh orang lain dalam pembicaraan.

Keserakahan :Syarat-syarat yang dipenuhi adalah,Sbb : Milik orang lain, Keinginan kuat untuk memiliki dengan seolah-olah berkata dalam hati; aku ingin sekali memiliki benda itu. * Akibat buruknya adalah : Tidak tercapainya keinginan yang sangat diharapkan.

Kemauan jahat : Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb : Sasaran berupa mahluk lain, Niat untuk menyakiti atau merugikan. * Akibatnya adalah sbb: Rupa buruk, macam-macam penyakit, watak yang tercela.

Kekeliruan pandangan hidup,: Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah sbb : Pemandangan yang berputar balik tentang satu benda atau keadaan,dengan akibat, salah pengetian tentang keadaan yang sebenarnya. * Akibat buruknya adalah sbb : Terikat kepada benda atau keadaan, kurang bijaksana, kurang kecerdasan, mengidap penyakit menahun, memiliki pendapat-pendapat yang tercela.

 

KAMMA BAIK YANG BERAKIBAT HANYA SAMPAI DI KEHIDUPAN DI ALAM DUNIA INI YANG PENUH DENGAN KEINGINAN.

Terdapat sepuluh jenis kamma baik, dan Akibat-akibatnya adalah   :

  1. DANA : Beramal dan bermurah hati berakibat diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau dalam.kehidupan yang akan datang.
  2. SILA  : Hidup bersusila mengakibatkan terlahir dalam keluarga luhur dan bahagia.
  3. BHAVANA  : Bermeditasi berakibat penitisan dalam alam-alam sorga.
  4. APACAYANA : Berendah hati dan hormat menyebabkan kelahiran dalam keluarga luhur.
  5. VEYYAVACCA : Berbakti mengakibatkan seseorang memperoleh penghargaan dari masyarakat.
  6. PATTIDANA : Berkecenderungan untuk membagi kebahagiaan kepada orang  lain, menyebabkan pemberi itu terlahir dalam keadaan tidak berkekurangan,bahkan berlebih-lebihan dalam berbagai hal.
  7. PATTANUMODANA  : Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.
  8. DHAMMASAVANA : Mempelajari dan sering mendengarkan Dhamma  bertambahnya  kebijasanaan
  9. DHAMMADESANA  : Menyebar dan menerangkan Dhamma berbuah dengan bertambah kebijaksanaan
  10. Ditthijukamma : Berpandangan hidup yang benar, meluruskan pandangan orang lain berbuah dengan diperkuatnya keyakinan.

 

TUMIMBAL LAHIR (Patisandhi/punabhava) bukan berarti pemindahan atau penjelmaan, dalam agama Buddha tidak dikenal pemindahan atau penjelmaan dari nama (bathin /jiwa) setelah seseorang meninggal dunia.tetapi dikenal dengan istilah “penerusan”(patisandhi)vinnana.ketika seseorang akan meninggal dunia,kesadaran ajal (cuti citta) mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan kamma.

kemudian,kesadaran ajal (cuti-citta) padam dan langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi-vinnana) untuk timbul pada salah satu dari 31 Alam kehidupan (Bhumi 31) sesuai dengan karmanya. Hal ini secara umum disebut pula suatu permulaan dari bentuk kehidupan baru.

Ada 4 cara Tumimbal – lahirnya mahluk -mahluk, yaitu :

  1. JALABUJA-YONI : Mahluk yang lahir dari kandungan,seperti: manusia, kuda, kerbau. dll
  2. ANDAJA-YONI : Mahluk yang lahir dari telur,seperti: burung, ayam, bebek.dll
  3. SANSEDAJA-YONI : Mahluk yang lahir dari kelembaban,seperti: :nyamuk, ikan,dll
  4. OPAPATIKA-YONI : Mahluk yang lahir seara spontan, langsung membesar, seperti : para dewa, brahma, peta, mahluk neraka.dll

Disamping itu terdapat pula 4 macam Tumimbal lahir secara penerusan kehidupan di 31 Alam Kehidupan,Yaitu :

  1. APAYA-PATISANDHI : Bertumimbal lahir di Alam Apaya
  2. KAMASUGATI-PATISANDHI  : Bertumimbal lahir di Alam Kamasugati
  3. RUPAVACARA-PATISANDHI   : Bertumimbal lahir di Alam Rupa-jhana
  4. ARUPAVACARA-PATISANDHI : Bertumimbal lahir di Alam Arupa-jhana

 

Mahluk-mahluk itu bertumimbal lahir dalam 31 Alam Kehidupan,Mahluk-mahluk yang diam di 31 Alam Kehidupan itu masih mengalami kelahiran dan kematian,masih mengalami derita. 31 Alam Kehidupan tidak kekal adanya.

Nibbana (Nirwana) adalah diluar dari 31 Alam Kehidupan itu. Sebaliknya. Nibbana itu terbebas dari kelahiran dan kematian,terbebas dari derita, tidak termusnah, ada dan tidak berubah, kekal adanya. Jika seseorang belum mencapai kesucian tingkat arahat, setelah ia meninggal dunia,ia akan dilahirkan kembali dalam salah satu Alam dari 31 Alam Kehidupan sesuai dengan kammanya.

 

Sumber :

Intisari Agama Buddha, Pandita S Widyadharma

Dhammasakaccha, pandit J.Kaharuddin

Kamus Buddha Dhamma, Pandit J.Kaharuddin

Pengantar Hukum Kamma dan Punabhava Pdt.Dhammawan.

 

Share with your social media account !!!